Wejangan/ Nasehat orang tua yang aneh akan tetapi mengandung makna yang dalam bagi kebaikan hidup manusia

Wejangan/ Nasehat orang tua yang aneh akan tetapi mengandung makna yang dalam bagi kebaikan hidup manusia

Nasehat adalah arahan/ petunjuk dari orang tua/ orang terdekat untuk memanusiawikan anak-anaknya. Apakah kita belum terlihat seperti manusia? Yes, kelihatannya saja manusia namun tabiatnya bina*ang! Kita kadang tidak menyadari apa yang dilakukan telah menyinggung perasaan orang lain. Moralitas yang buruk di masyarakat akan mendatangkan peristiwa yang memilukan, cepat atau lambat. Untuk itulah orang jaman dulu selalu membekali buah hatinya dengan wejangan yang baik walau terkadang aneh agar buah hatinya kelak menjadi orang yang berguna.
Dibeberapa Desa di Jawa ada suatu mitos mengenai wejangan ( Petunjuk ) dari orang tua yang mengambarkan perilaku dalam kehidupan, Akan tetapi ini berupa kiasan berbahasa Jawa sehinggah banyak anak Zaman sekarang susah untuk mengartikan dan mengambil hikmah dari nasihat tersebut karena terkesan nyeleneh dari fakta ilmu pengetahuan yang mereka pelajari baik secara formal maupun informal. Berikut ini akan kita bahas bersama berbagai arahan dari orang tua yang aneh akan tetapi mengandung makna yang dalam yang saya kutip dari http://arielnumpangnulis.blogdetik.com/

Nasihat yang berupa teguran keras ini tidak hanya berasal dari Jawa saja melainkan setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan dan wejangan yang berbeda-beda..Jika di daerah saya sendiri, Nias, petunjuk yang sifatnya keras ini dikenal sebagai petuah dan dianut oleh seluruh masyarakat adat. Banyak orang yang masih percaya dengan petuah ini dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan saya sendiri lebih memilih untuk melakukan/ menekuni makna dibalik semua kata-kata nan unik dan cenderung tidak masuk akal ini.

1. Ojok Longgo Bantal Mengko Udunen (Jangan Duduk Di Bantal Nanti Bisulan)

Nasehat yang ini sering disangkal beberapa masyarakat modern dan anak muda kekinian karena sama sekali tidak terbukti kalau kita duduk di atas bantal akan mendapatkan penyakit bisul, Karena ilmu kedokteran membuktikan bahwa penyakit bisul adalah karena darah kotor dan alergi kulit yang bisa menyebabkan tubuh kita muncul penyakit Bisul, Bahkan kebanyakan sopir angkutan umum dan pekerja pabrik menggunakan bantal untuk Duduk mereka agar tidak cepat capek,Kadang pula beberapa orang mengatakan kalau Pak Sopir Koq Tidak bisulan?
Sebenarnya bukan seperti itu makna di balik petunjuk tersebut, Orang tua terdahulu mengeluarkan wejangan dengan Ancaman Udunen ( Bisulan ) karena penyakit yang paling tidak enak adalah Bisul pada zaman itu. Maka dari itu orang terdahulu mengeluarkan Ancaman Penyakit Udunen ( Bisul ) untuk menakuti anak-anaknya.
Makna Sesungguhnya dari nasehat ” Ojok Longgo Bantal Mengko Udunen ” mengajarkan suatu perilaku sopan santun kita terhadap orang yang lebih tua dan lebih tinggi dari kita. Bantal mengisyaratkan kepala/ tinggi dan Longgo mengisyaratkan Pantat/rendah,jadi orang yang lebih tinggi dari kita jangan direndahkan dan patut kita hormati.

2. Ojok Ngidu Nang Sumur Mengko Suwing ( Jangan Meludah Di Dalam Sumur Nanti Sumbing )

Petunjuk yang satu ini biasanya dianggap sepele oleh beberapa orang yang pernah mendengarnya tetapi tidak tau makna sesungguhnya yang terkandung didalamnya, Terkadang mereka juga beranggapan wejangan tersebut hanya bualan dan angin lalu belaka karena mereka berfikir semua itu tidak akan terjadi, Toh…. kalaupun terjadi mungkin para penggali sumur akan berhenti dari pekerjaan menggali sumur karena mereka akan terkena peyakit sumbing semua, Secara logika masakan penggali sumur yang ingin meludah harus naik ke permukaan dahulu untuk melakukannya?.
Arti Nasehat diatas mengandung makna jangan pernah meremehkan/ melupakan orang yang telah berperan penting dalam kehidupan kita, Bisa jadi itu artinya kita tidak boleh melupakan jasa orang tua, guru atau mereka yang disekitar telah membantu kita untuk menjadi sesuatu/ menjadi orang yang berguna di masyarakat.
Kata meludah adalah tindakan meremehkan dimana bila seseorang meremehkan maka dia akan meludah,dan kata sumur adalah sumber kehidupan dimana di dalam sumur ada air dimana manusia tanpa air tidak akan bisa hidup.

3. Ojok Dulunan Beras Mengko Keteng ( Jangan Bermain Beras Nanti Jarimu Keriting )

Istilah wejangan tersebut sering sekali diucapkan kepada anak-anak jaman dulu karena saat itu orang mengambil las ( Padi yang belum terkelupas ) dengan tampah dan diputer-puter agar terkumpul las-nya. Bisanya anak-anak akan sangat suka bermain beras tersebut sehingga tumpah kemana-mana.
Makna dari petunjuk tersebut bukan pada tangannya tetapi mengajarkan kita menghemat dan jangan berperilaku sombong, Pada saat itu membeli beras sangat sulit sehinggah jangan sampai terbuang satu biji beraspun disamping itu, jangan membuang-buang hal / barang dengan sia-sia padahal susah untuk didapatkan/ beli. Kita dianjurkan untuk tidak menyia-nyiakan apapun yang kita miliki sebab biar bagaimanapun itu diraih dengan perjuangan.
Seakan-akan nasehat tersebut juga mengandung arti jangan menghambur-hamburkan uang atau boros (mubazir) dan berhematlah dengan memanfaatkan yang kita miliki sebaik mungkin untuk kehidupan yang lebih baik.

4. Ojok Longgo Nang Tengah Lawang Mengko Rezekine Cupet ( Jangan Duduk Ditengah Pintu Nanti Rezekinya Seret )

Wejangan inipun mampu disangkal dengan rizki,mati dan jodoh ditangan Tuhan dan tidak ada hubunganya sama sekali dengan kita duduk ditengah pintu. Tetapi bukan itu makna sesungguhnya dari Petunjuk yang diucapkan oleh orang tua kita, Tetapi mereka mengajarkan kita jangan pernah menghalangi jalan seseorang dengan tindakan curang. Bila dikembangkan lebi jauh lagi bersainglah dalam segala bidang dengan sportif.
Pintu sebagai pusat untuk keluar masuk. Banyak orang begitu keluar dari pintu selalu membawa harapan yang besar untuk kehidupannya, Seperti para pedagang keluar dari pintu rumahnya selalu membawa harapan agar daganganya laris. Kita jangan sampai sekali-kali melakukan tindakan curang untuk menghalangi dan menggalkan harapan seseorang untuk meraih masa depan yang lebih baik.

5. Boi tunu geu mbalo fa’fofo, alakha (Jangan bakar kayu api dari kedua ujunnya)

Ini adalah petuah dari daerah Nias. Leluhur kami meyakini bahwa perbuatan membakar kayu api dari kedua ujuangya adalah salah satu yang paling keji (alakha). Ini memang tidak terbukti mempengaruhi kehidupan secara langsung akan tetapi banyak yang menganggap petuah ini sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja.
Arti sebenarnya dari nasehat ini adalah keteraturan hidup agar anak cucunya tidak serakah dalam memanfaatkan alam beserta seluruh isinya. Keserakahan pada akhirnya membuat bumi ini hancur oleh karena itulah para orang tua jaman dulu menyampaikan wejangan ini.

6. Na’obozini nomo, boi lau mifona gawu-gawu nia, moloi harazakida (jika menyapu bagian dalam rumah jangan membuang keluar pasir & debunya sebab rezki bisa lari)

Ini memang petunjuk yang terkesan tidak masuk akal karena rizki dan berkat itu asalnya hanya dari Tuhan saja bukan dari cara yang kita lakukan dalam menyapu lantai. Ini juga sudah diabaikan oleh banyak orang bahkan kami (keluarga saya) sendiripun melakukan hal yang sebaliknya dengan menyapu semua kotoran ke luar rumah. Ini memang tidak salah teman karena sebenarnya maknanya tidak seperti kedengarannya.
Sejenak berpikir dan merenung sambil feedback ke masa lalu. Saya baru mengerti bahwa maksud yang sebenarnya dari nasehat ini adalah jika ada masalah dalam keluarga jangan di bawa keluar atau jangan dijadikan sebagai konsumsi publik (seperti masalah artis yang suka di sorot oleh infotainment). Merekakan artis dimana profesinya menuntut mereka harus seperti itu sedangkan kita orang awam sebaiknya persoalan dalam keluarga diselesaikan secara kekeluargaan dan jangan pernah diumbar ke tetangga atau orang lain yang bukan famili kita.

7. Boi’a nafo sifofona nibidi niowalu, ifatoro’o dania (jangan memakan sirih pertama yang diracik oleh pengantin, nanti kamu dikendalikan olehnya)

Ini juga salah satu wejangan dari orang tua jaman dulu kepada laki-laki yang baru menikahi seorang perempuan. Sekapur sirih sebagai simbol penghormatan masyarakat Nias juga menjadi penghargaan yang dibawa oleh seorang pengantin baru kerumah mertuanya. Orang-orang zaman dulu percaya bahwa jika silaki-laki (suami) memakan sirih pertama yang diberikan oleh pengantin baru (niowalu : nias) maka yang terjadi adalah suami-suami takut istri.
Petuah ini seperti mitos yang masih dianut oleh sebagian besar masyarakat di daerah saya. Akan tetapi sebenarnya ini tidak ada hubungan logis antara kedua hal ini. Semua keputusan dalam rumah tangga dipegang oleh suami dan pilihannya sendirilah yang membuat ia menuruti kata-kata istrinya atau tidak. Ini berhubungan dengan prinsip yang dikendalikan oleh otak bukan oleh perut yang dihubung-hubungkan dengan masa lalu (mengkonsumsi sirih pertama dari niowalu).
Nasihat yang sebenarnya dari petuah ini adalah jangan menuruti semua kata-kata istri anda. Bila perlu abaikan/ tolak saja sekalipun sebenarnya anda melakukan apa yang dikatakannya. Pengabaian ini adalah sebagai bentuk dari legalitas seorang suami sebagai kepala keluarga. Kita bisa memiliki istri yang lebih cerdas bahkan lebih pintar cari duit dari kita namun bukan berarti dia berhak menjadi kepala keluarga dan mengatur-ngatur kehidupan kita. Aturannya adalah kepala keluarga adalah suami dan Tuhanlah yang ada di atasnya.

*_*

Sesungguhnya masih banyak lagi petunjuk yang lain yang pernah diajarkan oleh orang tua/ leluhur kita namun disini yang kita sampaikan hanyalah beberapa saja. Jangan pernah menyepelekan arahan dari orang tua jaman dulu melainkan resapi dan fahami terlebih dahulu sehingga kita bisa memaknainya dengan tepat. Arahan dari mereka jangan terburu-buru dibantah dengan pemahaman kita yang sempit dan dangkal seputar masalah sains dan teknologi modern.
Jika teman-teman masih memiliki wejangan yang berasal dari daerah masing-masing, silahkan dishar ke kolom komentar yang telah disediakan.
Salam keluarga hebat

Tentang desyamsularifcom

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banten. Tandai permalink.