(REVIEW) 13 The Haunted: Sebuah Upaya Tampil Beda

13 the haunted
Cinema

(REVIEW) 13 The Haunted: Sebuah Upaya Tampil Beda

By Iruna Ireuna / 28 July 2018

Genre: HororActors: Mikha Tambayong, Al Ghazali, Steffi Zamora, Valerie Thomas, Endy Arfian, Marsha Aruan, Atta Halilintar, Mumuk Gomez, Achmad MegantaraDirectors: Rudy SoedjarwoRelease Date: 26 July 2018
Average Rating

6.4/10
Needs 8 Ratings
Rate This

*Spoiler Alert: Artikel ini mengandung bocoran film yang bisa aja mengganggu buat lo yang belum nonton.

Cerita: 6 | Penokohan: 6 | Visual: 6 | Sound Effect/Scoring: 7 | Penyutradaraan: 7 | Nilai Akhir: 6,4/10

Setelah bulan lalu lo disuguhin remake Kuntilanak, bulan ini pun lo bakal nemuin satu film horor lagi yang digarap sama sutradara yang udah lama berkecimpung di perfilman Indonesia. Yap, setelah lama enggak menelurkan karya, sutradara yang terkenal lewat Ada Apa dengan Cinta? (2002) ini kembali lagi. Kali ini, Rudy Soedjarwo menggebrak lewat film horor berjudul 13 The Haunted.

13 The Haunted memang bukan film horor pertama Rudy. Dirinya jugalah yang berada di balik layar Pocong 2 (2006), Hantu Rumah Ampera (2009), serta Algojo: Perang Santet (2016). Mungkin pada masanya, film-film itu enggak setenar film-film Rudy lainnya yang menangin festival film kayak AADC? dan Mengejar Matahari (2004). Namun, keberadaan film-film itu ngebuktiin bahwa Rudy adalah sutradara yang cukup eksperimental. Eksperimen lainnya pun dirilis tahun ini, 13 The Haunted. Produsernya, Raffi Ahmad, mengakui bahwa 13 The Haunted bukan film horor biasa.

13 The Haunted awalnya kelihatan seperti film petualangan remaja biasa. Film ini mengisahkan sekelompok remaja doyan vlogging yang mengelola konten horor di kanal YouTube mereka. Di dalamnya ada Ahmad Al Ghazali sebagai Rama, Valerie Thomas sebagai Celsie, Endy Arfian sebagai Garin, Atta Halilintar sebagai Farel, Achmad Megantara sebagai Joy, Mikha Tambayong sebagai Klara, Marsha Aruan sebagai Hana, Stefhanie Zamora Husen sebagai Quincy, dan Mumuk Gomez sebagai Fira. Bertabur bintang muda yang jadi idola generasi milenial, apakah 13 The Haunted bakal jadi film “numpang lewat” lainnya? Atau, justru berkesan?

Premisnya cukup sederhana. Demi mencari perhatian lebih banyak viewers, Rama dan kawan-kawan harus mencari “masalah”. Mereka pun menemukannya: sebuah pulau yang mitosnya berhantu karena merupakan tempat kejadian pembunuhan dan hal-hal mengerikan lainnya. Bertekad membuktikan mitos tersebut, mereka datang ke Pulau Ayunan, pulau berhantu yang menyimpan misteri pembunuhan besar. Namun, yang mereka temukan di sana sama sekali tak seperti yang dibayangkan. Keanehan demi keanehan terjadi dan sedikit demi sedikit misteri pun terkuak. Terancam dalam bahaya, mereka harus menemukan cara untuk pergi dari pulau itu.

Sebenarnya, film ini punya cerita yang asyik. Konfliknya enggak cuma soal remaja gaul mau vlogging ke pulau berhantu terus ketemu hantu. Enggak sebatas itu. Beberapa karakter punya konflik sendiri yang—meski awalnya terkesan enggak penting—belakangan justru bikin keberadaan mereka bukan sekadar tempelan buat cerita ini.

Selain itu, film ini juga cukup tricky. Awalnya, lo bakal ngerasain aura thriller yang bakal bikin film ini berakhir dengan sekelompok remaja ini mati satu per satu dan sisanya harus berusaha keluar supaya selamat. Nyatanya, ini bukan Friday the 13th (2009). Sebaliknya, lo bakal tahu misteri besar yang menanti mereka dengan penjelasan yang dikaitin sama mitos soal cara ngelihat hantu.

 

Yah, meski bisa dibilang penggambaran hantunya sama sekali jauh dari kata mengerikan, kenyataan yang menunggu di akhir film pasti bikin lo merinding. Leraiannya pun merupakan pengantar buat sekuelnya. Yap, film ini memang bakalan ada sekuelnya yang berjudul 13 The Return.

Yang paling mengganggu sepanjang film ini adalah editing-nya yang berantakan. Lo bakal nemuin adegan yang “dipaksa selesai”, perpindahan adegan yang kasar banget, sampai-sampai musik yang kepotong tanggung dan jadi enggak enak didengar. Pemotongan yang enggak enak ini cukup ngerusak mood di awal. Untungnya, hal itu enggak bertahan sampai akhir film karena perpindahannya makin halus menjelang akhir.

Buat sebuah film horor, scoring13 The Haunted masih oke meski di sepertiga awal film terkesan kaku dan telat. Namun, menjelang klimaks, lo enggak bakal dikasih kendor. Pace-nya berakselerasi menjelang akhir dan sebelum itu lo bakal diantar sama instrumen biola dan piano bernada minor yang menyayat.

Soal casting, sebetulnya memang lo enggak perlu berekspektasi tinggi karena enggak ada yang istimewa dari akting para pemeran utamanya, khususnya Al dan Valerie. Justru, lo mesti kasih jempol buat akting Marsha Aruan yang bisa banget jadi si penakut di geng mereka. Marsha pun berhasil bikin penonton terbawa suasana saat akhir yang mengejutkan menanti karakter Hana. Endy Arfian pun cukup asyik memerankan karakter Garin yang kocak. Yap, karakter Rama dan Celsie yang harusnya jadi sorotan utama dalam film ini justru kalah bersinar dibandingkan karakter Hana dan Garin.

13 The Haunted menggabungkan unsur petualangan remaja, thriller, dan horor dalam satu film tanpa menjual adegan-adegan “panas”. Hal ini udah patut diapresiasi. Namun, itu aja masih belum cukup. Film ini bakal lebih kuat lagi kalau didukung dengan casting yang oke dan editing yang lebih rapi. Makanya, sekarang wajar kalau film ini masuk kategori film yang gampang dilupakan.

13 The Haunted udah tayang sejak 26 Juli 2018. Meski tayang deketan dengan Mission: Impossible – Fallout, film ini tetap layak lo tonton sebagai salah satu hiburan ringan akhir pekan. Nah, mending lo tonton aja sendiri di bioskop kesayangan lo. Kalau udah nonton, jangan lupa kasih penilaian dan pendapat lo di bagian atas artikel ini, ya!

Tentang desyamsularifcom

Tuhanku, tenggelamkan aku dalam cinta-Mu Hingga tak ada satupun yang mengganguku dalam jumpa-Mu
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banten. Tandai permalink.